Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Masjid Syuhada Yogyakarta

Posted by Belibuku.web.id Minggu, 18 Desember 2011 0 komentar
[caption id="attachment_492" align="aligncenter" width="200" caption="Masjid Syuhada Yogyakarta"]Masjid Syuhada Yogyakarta[/caption]

MASJID Syuhada Yogyakarta menjadi satu dari saksi sejarah masyarakat muslim dalam memperjuangkan kemerdekaan. Semangat dan perjuangan umat muslim untuk menegakkan kemerdekaan, menjadi bagian tidak terpisahkan dengan masjid dan para pemukanya. Ulama, pengasuh pondok pesantren bersama santri bahu membahu membangun kebersamaan untuk mengusir kedzaliman dan perampas kemerdekaan hak sebagai manusia.
MASJID Syuhada Yogyakarta menyimpan candrsengkala sekaligus sebagai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga hal itu digambarkan dalam bagian-bagian penting bangunan seperti 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapuranya dan empat kupel bawah serta lima kupel atas. Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, di bawah untuk ruangan kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Alah SWT.
Di lantai dua untuk ruang shalat bagi kaum perempuan, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Sedang di lantai tiga sebagai ruang shalat utama, termasuk shalat Jumat di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim rukun Islam.
Pada 17 Agustus 1950 menetapkan garis kiblat di atas tanah yang sekarang berdiri bangunan representatif. Sedangkan pada 23 September 1950 atau 11 Dzulhijjah 1369 bertepatan dengan Hari Raya Qurban kedua Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang ketika itu selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia, meletakkan batu pertama pembangunan masjid. Dua tahun kemudian tepatnya pada 20 September 1952 seluruh bangunan selesai dan dilakukan pembukaan secara resmi yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372.
Pembangunan MASJID Syuhada Yogyakarta dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat muslim pada umumnya dan secara khusus memberi penghargaan kepada masyarakat muslim di Yogyakarta yang banyak menyumbangkan bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Lebih dari itu juga dimaksudkan sebagai monumen guna memperingati para pahlawan yang gugur syahid mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI dengan penuh keyakinan.
Bukan saja kemerdekaan atas penjajahan bangsa asing melainkan sebagai wujud dari upaya mempertahankan kemerdekaan, kebenaran dan keadilan. Masyarakat muslim teguh dalam memegang prinsip ketika menjalani kehidupan yakni untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Untuk itu masyarakat muslim tidak menghendaki adanya kedzaliman di atas bumi, apalagi di negerinya sendiri.
MASJID Syuhada Yogyakarta menjadi wujud dari kemandirian masyarakat dalam mencapai cita-citanya, bangunan berdiri atas swadaya masyarakat dikerjakan sendiri dan hanya bagian-bagian penting seperti penasihat teknik harus mendatangkan dari luar masyarakat Yogyakarta. Mulai rancangan hingga pembangunan selesai semua dikerjakan berdaarkan musyawarah masyarakat bersama tokoh-tokohnya. Dengan demikian menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseluruhan masyarakat muslim, ketika masjid membutuhkan tenaga dan dukungan masyarakat akan serta merta mendapatkan bantuan dari masyarakatnya.
MASJID Syuhada Yogyakarta yang dibangun dengan harapan memenuhi kebutuhan masyarakat muslim, bukan saja sebagai monumen hidup melainkan menjadi peringatan generasi muda yang muncul belakangan. Diharapkan mampu menjadi peringatan kesungguhan dalam membangun kebersamaan sebagaimana dilakukan para pendahulu yang hidup di zaman perang kemerdekaan.
MASJID Syuhada Yogyakarta yang menggabungkan berbagai arsiktektur selain sejumlah perlambang melekat dalam setiap bangunan, di kubahnya mengambil bentuk-bentuk bangunan yang berkembang di Persia, India dan menjadi bagian dari masjid-masjid yang dibangun ketika itu. Kubah bundar di bagian tengah sebagai kubah utama, dikelilingi kubah kecil di empat sudutnya.
Bangunan berlantai tiga itu memberikan kesempatan kepada masyarakat muslim untuk melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Selain sebagai pusat ibadah, keberadaannya diharapkan menjadi pusat segala kegiatan kemasyarakatan. Di lantai dasar masyarakat dapat menggunakan untuk kuliah dan beragam kegiatan.
Bangunan MASJID Syuhada Yogyakarta yang berada di tengah pemukiman masyarakat itu memungkinkan kemakmuran, bukan saja sebagai pusat kegiatan ibadah mahdhah melainkan berbagai kegiatan kemasyarakatan. Sejak awal berdirinya keterlibatan masyarakat menjadi prasyarat, sekaligus memberi gambaran kehidupan di masyarakat muslim yang mengharuskan berjamaah.
Pembangunan MASJID Syuhada Yogyakarta yang didasarkan untuk kepentingan masyarakat, dikelilingi rumah-rumah penduduk akan mendapat dukungan penuh. Kemakmuran yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan masjid tidak dapat ditawar-tawar lagi sehingga akan memberikan jaminan kelangsungan masjid bersama masyarakatnya. Upaya mengembalikan masjid lengkap dengan fungsi-fungsi yang melekat sebagaimana di zaman silam dalam diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di zaman Rasulullah Muhammad SAW dan beberapa generasi sesudah kepergian beliau, fungsi masjid melekat dengan kehidupan masyarakatnya. Masjid bukan saja sebagai tempat ibadah mahdhah, melainkan untuk berbagai keperluan dalam kehidupan kemasyarakatan dan keumatan. Keika itu bangunan masjid menjadi pusat segala kegiatan, bahkan untuk keperluan penyusunan strategi peperangan sekaligus benteng pertahanan ketika harus menghadapi musuh-musuh Islam dan masyarakat muslim. MASJID Syuhada Yogyakarta memerankan fungsinya secara maksimal sebagai pusat peradaban di masyarakat muslim sepanjang zaman.
Menjadi kewajiban masyarakat muslim dan generasi muslim yang akan datang untuk mewujudkan kembali cita-cita menjadikan masjid sebagai pusat peradaban masyarakat muslim. Pusat ibadah mahdhah yang diikuti dengan kegiatan kemasyarakatan dan keumatan sehingga keberadaan masjid menjadi representasi masyarakat muslim secara keseluruhan.
Dari MASJID Syuhada Yogyakarta dipancarkan sosok kehidupan masyarakat muslim, bukan saja ketika berada di kawasan masjid melainkan ketika masyarakat muslim menjalani kehidupan sehari-hari. Semua akan memancarkan semangat hidup yang berlandaskan kehidupan di masjidnya. Seluruh sisi kehidupan masyarakat muslim hendaknya bersumber dari masjid sebagaimana kehidupan masyarakat muslim yang disemangati dari ajaran Islam, masjid menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan dinamika kehidupan ketika bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

MASJID Syuhada Yogyakarta

Baca Selengkapnya ....

Gedung Agung Istana Yogyakarta

Posted by Belibuku.web.id 0 komentar
[caption id="attachment_475" align="aligncenter" width="259" caption="Gedung Agung Istana Yogyakarta"]Gedung Agung Istana Yogyakarta[/caption]

Gedung Agung Istana Yogyakarta awalnya adalah rumah kediaman resmi residen Ke-18 di Yogyakarta (1823-1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan penggagas atau pemrakarsa pembangunan Gedung Agung Istana Yogyakarta ini. Gedung ini didirikan pada bulan Mei 1824 di masa penjajahan Belanda. Ini berawal dari keinginan adanya "istana" yang berwibawa bagi residen-residen Belanda. Arsiteknya bernama A. Payen; dia ditunjuk oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa itu. Gaya bangunannya mengikuti arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis.

Pecahnya Perang Diponogero (1825-1830), yang oleh Belanda disebut Perang Jawa, mengakibatkan pembangunan Gedung Agung Istana Yogyakarta jadi tertunda. Musibah / gempa bumi terjadi dua kali pada hari yang sama, menyebabkan tempat kediaman resmi residen Belanda itu runtuh. Namun bangunan baru didirikan dan rampung pada tahun 1869. Bangunan inilah yang menjadi Gedung Induk Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta, yang kini disebut Gedung Negara.

Sejarah juga mencatat bahwa pada tanggal 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi. Penguasa tertinggi Belanda bukan lagi residen, melainkan gubernur. Dengan demikian, Gedung Agung Istana Yogyakarta yang selesai dibangun pada 1869 tersebut menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta hingga masuknya pendudukan Jepang. Beberapa Gubernur Belanda yang mendiami gedung tersebut adalah J.E Jasper (1926-1927), P.R.W van Gesseler Verschuur (1929-1932), H.M de Kock (1932-1935), J. Bijlevel (1935-1940), serta L Adam (1940-1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.

Riwayat Gedung Agung Istana Yogyakarta itu menjadi sangat penting dan sangat berarti tatkala pemerintahan Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada tanggal 6 Januari 1946, Yogyakarta yang mendapat julukan Kota Gudeg tersebut resmi menjadi ibukota baru Republik Indonesia yang masih muda, dan istana itu pun berubah menjadi Istana Kepresidenan sebagai kediaman Presiden Soekarno, Presiden I Republik Indonesia, beserta keluarganya. Sementara Wakil Presiden Mohammad Hatta dan keluarga ketika itu tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072 / Pamungkas, yang tidak jauh dari kompleks istana.

Sejak itu, riwayat Gedung Agung Istana Yogyakarta (terutama fungsi dan perannya) berubah. Pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI (pada tanggal 3 Juni 1947), diikuti pelantikan sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (pada tanggal 3 Juli 1947), serta lima Kabinet Rebulik yang masih muda itu pun dibentuk dan dilantik di Istana ini pula.

Pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948, Yogyakarta digempur oleh tentara Belanda di bawah kepemimpinan Jenderal Spoor. Peristiwa yang dikenal dengan Agresi Militer II itu mengakibatkan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, beserta beberapa pembesar lainnya diasingkan ke luar Pulau Jawa, tepatnya ke Brastagi dan Bangka, dan baru kembali ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949. Mulai tanggal tersebut, Gedung Agung Istana Yogyakarta kembali berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden. Namun, sejak tanggal 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi kediaman Presiden.

Sebuah peristiwa sejarah yang tidak dapat diabaikan adalah fungsi Gedung Agung Istana Yogyakarta pada awalnya berdirinya Republik Indonesia (tanggal 3 Juni 1947). Pada saat itu Gedung Agung berfungsi sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman, selaku Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, selama tiga tahun (1946-1949), gedung ini berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden I Republik Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa dinas Presiden II RI, sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta/ Gedung Agung Istana Yogyakarta juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Taruna-taruna Akabri Udara yang Baru, dan sekaligus Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru Lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, sejak tanggal 17 Agustus 1991, secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta / Gedung Agung digunakan sebagai tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi untuk Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejalan dengan fungsinya kini, lebih dari 65 kepala negara dan kepala pemerintahan dan tamu-tamu negara, telah berkunjung atau bermalam di Gedung Agung Istana Yogyakarta itu. Tamu negara yang pertama berkunjung ke gedung itu adalah Presiden Rajendra Prasad dari India (1958). Pada tahun enam puluhan, Raja Bhumibol Adulyajed dari Muangthai (1960) dan Presiden Ayub Khan dari Pakistan (1960) berkunjung dan bermalam di gedung ini. Setahun kemudian (1961), tamu negara itu adalah Perdana Menteri Ferhart Abbas dari Aljazair. Pada tahun tujuh puluhan, yang berkunjung adalah Presiden D. Macapagal dari Filipina (1971), Ratu Elizabeth II dari Inggris (1974), serta Perdana Menteri Srimavo Bandaranaike dari Sri Langka (1976).

Kemudian, pada tahun delapan puluhan, tamu negara itu adalah Perdana Menteri Lee Kuan Yeuw dari Singapura (1980), Yang Dipertuan Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam (1984). Tamu-tamu penting lain yang pernah beristirahat di Gedung Agung Istana Yogyakarta, antara lain, Putri Sirindhom dari Muanghthai (1984), Ny. Marlin Quayle, Isteri Wakil Presiden Amerika Serikat (1984), Presiden F. Mitterand dari Perancis (1988), Pangeran Charles bersama Putri Diana dari Inggris (1989), dan Kepala Gereja Katolik Paus Paulus Johannes II (1989).

Pada tahun sembilan puluhan, para tamu agung yang berkunjung ke Gedung Agung Istana Yogyakarta itu adalah Yang Dipertuan Agung Sultan Azlan Shah dari Malaysia (1990), Kaisar Akihito Jepang (1991), dan Putri Basma dari Yordania (1996).

Semoga uraian tentang Gedung Agung Istana Yogyakarta ini bermanfaat

Baca Selengkapnya ....

Benteng Vredeburg Yogyakarta

Posted by Belibuku.web.id 0 komentar
[caption id="attachment_466" align="aligncenter" width="300" caption="Benteng Vredeburg"]Benteng Vredeburg[/caption]

Musium Benteng Vredeburg Yogyakarta dulunya merupakan tangsi militer Belanda yang mulai dibangun pada tahun 1760. Benteng ini terletak di Jl. A. Yani, tepatnya di depan Gedung Agung Yogyakarta. Lokasinya sangat dekat dengan Malioboro. Benteng Vredeburg Yogyakarta ini dulunya bernama Rustenburg yang berarti 'Benteng Peristirahatan'. Kemudian diganti nama menjadi Vredeburg yang berarti 'Bentang Perdamaian' setelah selesai dibangun kembali karena rusak akibat gempa besar yang melanda kota Yogyakarta pada tahun 1867.

Pembangunan  Benteng Vredeburg Yogyakarta ini sangat erat kaitannya dengan sejarah kota Yogyakarta. Selepas Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755, Mataram dibagi menjadi 2 bagian: setengah masih menjadi hak Kerajaan Surakarta dan setengah lagi menjadi hak Pangeran Mangkubumi. Pada perjanjian itu, Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Raja dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah atau lebih sering disebut Sultan Hamengku Buwono I.

Sejarah Benteng Vredeburg Yogyakarta  , Guna menjalankan pemerintahannya, Sultan HB I membangun Kraton dengan membuka hutan Beringin pada tahun 1755. Kraton mulai ditempati Sultan pada tahun 1756, dan mulai membangun bangunan pendukung yaitu benteng pertahanan, Melihat perkembangan pembangunan yang pesat, Belanda merasa khawatir dan meminta izin untuk membangun sebuah benteng pertahanan dengan dalih untuk menjaga keamanan Kraton dan wilayah sekitarnya. Letak benteng yang menghadap ke jalan utama menuju Kraton dan hanya 1 jarak tembakan meriam menjadikan benteng ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai banteng strategi, intimidasi dan juga sebagai blokade apabila sewaktu-waktu ada serangan dari Kraton Yogyakarta.

Pintu gerbang Benteng Vredeburg Yogyakarta menghadap ke Barat dan dikelilingi oleh parit. Didalam benteng, terdapat bangunan-bangunan rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang amunisi, rumah sakit dan juga rumah residen.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Benteng Vredeburg Yogyakarta digunakan sebagai markas tentara Kempeitei, gudang amunisi dan rumah tahanan bagi orang Belanda, Indo Belanda dan juga para politisi RI yang menentang Jepang.

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta ini di buka pada hari:
Selasa s/d Minggu: Pukul 08.30-14.00 WIB
Jumat : Pukul 08.00-11.00 WIB
Sabtu-Minggu : Pukul 08.30-12.00 WIB

Demikian uraian singkat tentang Benteng Vredeburg Yogyakarta

Baca Selengkapnya ....

Gereja Kotabaru Yogyakarta

Posted by Belibuku.web.id 0 komentar
[caption id="attachment_458" align="aligncenter" width="185" caption="Gereja Kotabaru"]Gereja Kotabaru[/caption]

Gereja Kotabaru Yogyakarta - Di Kotabaru memang ada bangunan gereja, dan sejak dulu bangunan ini memang sudah ada. Di depan gereja, terutama yang mengarah dari barat ke timur. ada lintas jalan, yang pada tahun 1937 masih rimbun dan terasa sejuk. Tidak padat kendaraan, meskipun sudah bisa dijumpai mobil dan sepeda, namun terasa lengang, tidak seperti sekarang, padat, penuh sesak, dan tidak lagi rindang, meskipun masih ada pepohonan. Inilah foto  Gereja Kotabaru Jl. Kotabaru tahun 1937.

[caption id="attachment_460" align="aligncenter" width="300" caption="Gereja Kotabaru Yogyakarta"]Gereja Kotabaru Yogyakarta[/caption]

Gereja Kotabaru Terletak 2 Km di sebelah barat Stasiun Tugu / malioboro. Merupakan gereja tua peninggalan zaman kolonial. Terkenal dengan nama Gereja Katolik St Antonius.

Gereja Kotabaru

Baca Selengkapnya ....

Parangkusumo, the Love Beach in Yogyakarta

Posted by Belibuku.web.id Sabtu, 10 Desember 2011 0 komentar

Upon entering the gate of Parangkusumo Beach, you will immediately feel the sacred nuance of the beach that is located around 30 kilometers south of Yogyakarta city and it is believed to be the entrance gate to the south ocean. You will soon smell the fragrance of flowers and incense as the materials of an offering; the nuance you will find nowhere but in this beach.

The sacredness of the place feels more distinct when you look at the scattered flowers and sets of offerings on the Love Stone that is located in Puri Cepuri complex where Panembahan Senopati and Queen of the South met and made an agreement. At that time, Senopati was meditating on the bigger stone in the north when Queen of the South approached him and sat on the smaller stone in the south.



The meeting between the two authorities had influence on the relationship between Yogyakarta Kingdom and Bale Sokodhomas Kingdom. It began when Senopati was perfecting his supernatural powers by doing the ritual of tapa ngeli or carrying himself away in the river. Arriving at a certain phase of his meditation, suddenly there was storm on the beach, trees were yanked out by its roots, the seawater was boiling and fish were thrown to the land.

The occurrence compelled the Queen of the South to show up on the surface of the ocean to see Senopati. Senopati expressed his ideal to govern Mataram and asked the Queen of South for her help. The Queen promised him the help with the conditions that Senopati and his descendants would be willing to become her husbands. Senopati took the conditions with the request that the marriage should not bear children.

The agreement made Yogyakarta Kingdom as one of Mataram frictions to have close relationship with the Kingdom of the South Ocean. The proof of such a relationship is the labuhan alit (giving an offering by throwing out certain things to the sea) that is done annually. One part of the labuhan ceremony is planting parts of Sultan's nails, hair and clothes in the area of Puri Cepuri. Please check with Yogyakarta tourism calendar in YogYES.com for this labuhan rite.

The meditation of Senopati that bore useful fruits caused many people to believe that any requests will be answered if they are said by the Love Stone. It is not surprising, therefore, hundreds of people from different classes and religions come to the place on certain days they consider sacred. Going in pilgrimage to the Love Stone is also believed to help someone to release heavy burdens from him and to give new life spirit.

In addition to the Love Stone and the labuhan procession, you can also enjoy the beauty of the beach and the breeze of the seashore on a horse-cart. You only have to pay IDR 20,000 for the pleasant ride.

There are many warongs where you can buy meals and drinks. Quite big numbers of visitors makes this area crowded every day, even until late at night. Some of them even spend the night in this beach to say their prayer. If you want to share the spiritual experience in Parangkusumo Beach, you can join the pilgrims praying.

Baca Selengkapnya ....

YOGYAKARTA or JOGJA - Travelers Paradise in Java, Indonesia

Posted by Belibuku.web.id Kamis, 08 Desember 2011 0 komentar

YOGYAKARTA (often also called Jogja, Yogya or Jogja) is located in middle of Java Island - Indonesia, where everything is cheap. It's enough with $ 20 per-day, you are able to stay over, eat famous authentic delicious food, and rent a motorbike to explore the pure beaches and thousand of years old ancient temples.

A thousand years ago, Yogyakarta was the center of ancient Mataram Kingdom which was prosperous and high civilized. This kingdom built Borobudur Temple which was the biggest Buddhist temple in the world, 300 years before Angkor Wat in Cambodia. Some other relics are Prambanan Temple, Ratu Boko Palace, and dozens of other temples scattered throughout Yogyakarta. (See Archaeological Sights)

However, by some mysterious reason, Ancient Mataram Kingdom moved its central government to East Java in the 10th century. The magnificent temples were abandoned and partially buried by the eruption material of Merapi Volcano. Slowly, Yogyakarta region went back into the dense forest.

Six hundred years later, Panembahan Senopati established the Islamic Mataram Kingdom in the region. Once again, Yogyakarta became the witness of human history of a great Kingdom that ruled Java Island and its surrounding area. Islamic Mataram Kingdom was leaving a trail of ruins of fortress and royal tombs in Kotagede which recently is known as silver handicraft center in Yogyakarta. (See Historic & Heritage Sights)

Giyanti agreement in 1755 divided the Islamic Mataram Kingdom into Kasunanan Surakarta be based in the city of Solo and Yogyakarta Sultanate which founded in Yogyakarta. Kraton (palace) still exists until today and is functioned as the residence of sultan and his family as well as hundreds of abdi dalem (the servant of the palace) who faithfully serve the palace voluntarily and run the tradition in the midst of changing times. At the palace, there are many cultural performances such as wayang kulit (puppet shadow play), gamelan (Javanese orchestra), and Javanese dance etc. (See Calendar of Events)

Yogyakarta at present is a place where tradition and modern dynamics are going on together continuously. In this city, there is a palace which has hundreds of loyal servants to run the tradition, but there is also University of Gadjah Mada that is one of the leading universities in South East Asia. Some of its residents live in a strong agrarian culture. In the other side, there are also students who live with pop life-style. Traditional markets and handicraft centers are numerous in the city where some of them located by the malls which are no less hectic.

At the north end of Yogyakarta, you will see Mount Merapi stands proudly almost as high as 10,000 feet. This mountain is one of the most active volcanoes in Indonesia. The trace of its malignant of the 2006 eruption can be witnessed in the Village of Kaliadem, 30 km from the city of Yogyakarta. Mooi Indie style scenery of green rice field with Mount Merapi in the background can still be seen in the suburb area of Yogyakarta. (See Nature & Outdoors)

In the southern part of Yogyakarta, you will find many beaches. The most famous beach is Parangtritis with its legendary figure of Nyi Roro Kidul (Queen of the South), but Yogyakarta has also many natural beautiful beaches in Gunung Kidul. You can see the Sadeng Beach which is an ancient estuary of Bengawan Solo River before the powerful forces lifted the surface of the southern part of Java Island so that the flow of the river turned to the north like today. You can also visit Siung Beach which has 250 channels of rock climbing, Sundak Beach and many more. (See Beaches)

If Malaysia has the world's highest twin towers, Yogyakarta has Prambanan Temple with 47 meters tall and was made by hand about 1100 the previous years. If Singapore has modern life, Yogyakarta has traditional agrarian society. If Thailand and Bali have beautiful beaches, Yogyakarta owns natural beaches and Mount Merapi, which has a story of how powerful the force of nature is.

A unique combination of ancient temples, history, traditions, culture and natural forces make Yogyakarta a very worthwhile place to visit. YogYES.COM site will help you to plan a visit to Yogyakarta and enjoy the best charm of this place. We provide rich information about things to see and do, hotels, dining, car rentals and all the information you need to travel to Yogyakarta / Jogja.

Baca Selengkapnya ....
ricky pratama support eva's blog - Original design by Bamz | Copyright of Buku Tentang.